» » » » Sebatas Mimpi Indonesia Bebas Narkoba

Oleh : Peter S Simo Wibowo SH.*)

BELUM genap satu bulan hebohnya Bareskrim Direktorat IV Reserse Narkoba Polri mengungkap jaringan terpidana mati Freddy Budiman yang mengendalikan bisinis kerajaan narkobanya dari balik jeruji beri penjara Nusakambangan dengan level Maximum Security, sekarang publik kembali terhenyak dengan penangkapan oleh BNN seorang oknum sipir Lapas Banceuy Bandung berinisial DR yang diduga menjadi kaki tangan / kurir sindikat pengedar sabu AA warga Kalimantan Barat terpidana di Lapas Karawang dengan kasus yang sama.

Terdapat modus operandi yang sama dari kedua sindikat Freddy Budiman dan AA yakni sama - sama menggunakan kurir sebagai kaki tangannya untuk menyelundupkan narkotika tersebut dengan cara " mengkaryakan " oknum petugas sipir penjara. Kekuatan jaringan narkoba memang sungguh luar biasa, selain didukung finansial yang hampir tanpa batas juga dukungan koneksi dari oknum - oknum aparat penegak hukum yang ikut terjebak kedalam pusara permainan dari para sindikat ini, terbukti dari jumlah barang bukti yang dapat disita oleh petugas jumlahnya sangat banyak berkisar hingga puluhan bahkan ratusan miliar rupiah. Sehingga oknum - oknum aparat penegak hukum yang bersentuhan langsung dengan penanganan kasus sindikat narkoba bisa terbuai, tergiur dengan janji dan iming-iming imbalan yang besar jauh melebihi gaji resmi yang mereka terima dari negara, siapa manusia di muka bumi ini yang tidak ingin hidup makmur dan serba berkecukupan ? disini akhlak, iman dan integritas petugas penegak hukum diuji, ujian yang sungguh berat.

Lemah atau kuatnya suatu sistem pengamanan dan deteksi sebuah lapas tidak terpisahkan dari peran SDM yang menjalankan dan mengimplementasikan sistem tersebut, karena yang benar adalah hukum / aturan dibuat untuk ditaati bukan untuk dilanggar, namun pemerintah sudah seharusnya introspeksi apakah kesejahteraan aparat penegak hukum dilapangan sudah memadai secara keseluruhan, sehingga dapat membuat mereka sepatutnya dapat melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik baiknya ?? tanpa tergiur atau bahkan mungkin terpaksa mencari penghasilan tambahan sekalipun dengan cara - cara yang melawan hukum, padahal didalam hati nuraninya merekapun sadar betul bahwa hal yang dilakukannya adalah keliru dan bersiko lebih berat dimata hukum dibandingkan dengan warga sipil biasa, ironis memang rencana pemerintah tidak sejalan dengan kenyataan hanya tinggal wacana tak ada realisasi.

Kejahatan narkotika adalah tergolong kejahatan extra ordinary crime setara dengan kejahatan terorisme dan korupsi, sehingga penanganan kasus sindikat dan kartel narkoba juga ditangani dengan cara - cara yang tak biasa oleh BNN hal ini patut kita apresiasi BNN dan Polri selalu dapat mengungkap gembong - gembong narkoba kelas kakap dengan barang bukti yang jumlahnya pun tak main - main hingga ratusan kilogram sabu, ber ton - ton ganja, jutaan butir pil ecstacy dan lain sebagainya dengan omzet hingga mencapai triliunan rupiah. Salah satu langkah hukum yang wajib terus dipertahankan BNN dan Polri adalah selalu menelusuri harta kekayaan si bandar - bandar narkoba yang berhasil diungkap untuk disita oleh negara dengan jerat Tindak Pidana Pencucian Uang, dengan tujuan untuk memiskinkan sindikat narkoba sehingga mempersempit ruang gerak pengendalian jaringan narkobanya, termasuk mempengaruhi aparat penegak hukum ( polisi, advokat, jaksa dan hakim ) dengan kekuatan financialnya yang sangat besar. Dengan demikian peredaran narkoba yang sumbernya dari lapas - lapas dapat " sedikit " ditekan.

Sepatutnya para pecandu atau pengguna yang tertangkap kedapatan mengkonsumsi narkoba tidak dipidana, tentu hal ini setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang patut oleh penyidik dan penyidik berkeyakinan dengan integritasnya tanpa ada rekayasa bahwa yang besangkutan hanyalah sebagai pengguna atau pecandu, sebagaimana isi pasal 54 Undang-Undang Narkotika Tahun 2009 yang menyebutkan pecandu narkoba wajib direhabilitasi.  Maka seyogianya pecandu tersebut mempunyai hak yang dijamin oleh negara untuk direhabilitasi untuk sembuh dari jerat narkoba dan tidak ditempatkan kedalam penjara, seperti pernah diungkapkan oleh Kepala BNN Komjen Anang Iskandar : " mulai 15 Agustus 2014, semua pecandu narkoba akan direhabilitasi. "Kalau pengedar tetap kita penjarakan," kata Anang di Jakarta, Rabu, 25 Juni 2014. kebijakan ini diberlakukan demi kebaikan para pecandu narkoba itu sendiri. Menurut beliau, pecandu yang dibui malah rawan mengkonsumsi narkoba di dalam penjara dan konon hal ini sudah ada kesepakatan dengan kepolisian, jaksa, serta hakim," Namun seperti kita ketahui para pengguna saat ini masih saja ada yang dipidana dan dijebloskan ke penjara. Padahal mereka adalah " corong " pasar narkoba, sehingga peredaran narkoba didalam lapas sangat sulit untuk diberantas. Sesuai dengan arahan United Nations Office on Drugs and Crime yakni merehabilitasi pecandu, bukan memenjarakan.

Satu hal lagi yang perlu segera direalisasikan oleh pemerintah adalah segera dibuat Lapas khusus untuk para pengedar, bandar dan sindikat dengan level super maximum security atau bahkan mengadopsi istilah Ultra Maximum Security, dan memberdayakan SDM - SDM pilihan dengan seleksi sangat ketat untuk bertugas pada lapas tersebut, tentunya dengan memperhatikan dari berbagai aspek yang dipersyaratkan termasuk dengan gaji dan tunjangan yang memadai. Letaknya terpencil, penjagaan super / ultra ketat oleh unsur dari TNI dan wilayahnya tidak bisa ditembus oleh signal cellular operator. Karena Lapas tersebut adalah lapas khusus untuk para terpidana bandar dan pengedar narkoba kelas kakap dan terpidana - terpidana mati kasus yang sama. Sehingga diharapkan dengan terbentuknya lapas khusus tersebut kembali dapat " sedikit " menekan pengendalian pasar narkoba diluar maupun didalam lapas oleh sindikat - sindikat narkoba jaringan nasional maupun internasional.

Harapan masyarakat termasuk penulis agar pemerintah serius untuk bertindak mengatasi serangan narkoba ke negeri tercinta kita Indonesia, diiringi doa agar dimasa - masa yang akan datang entah kapan anak cucu kita kelak bisa terbebas dan tidak mengenal istilah penyalahgunaan narkoba, karena narkotika mutlak hanya untuk kepentingan medis dan kemanusiaan tanpa ada oknum manusia yang mempunyai hasrat jahat memilih bisnis haram tersebut.(*)

*) Penulis adalah Advokat dari Kantor hukum SWAHA

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: