» » » » PKBM Tunas Mekar Merealisasikan Pemberantasan Buta Aksara Secara Maksimal

SJO-KARAWANG--Seluruh masyarakat Kabupaten Karawang khususnya warga Kecamatan Tirtamulya berhak mendapatkan pendidikan tanpa terkecuali. Pendidikan diberikan secara merata tanpa diskriminatif, dengan mendapatkan layanan pendidikan yang terjangkau, bermutu, tanpa membedakan.

Atas kondisi ini, Pemerintah berkewajiban untuk memastikan target, dan tujuan di bidang pendidikan tepat pada waktunya dengan mempertahankan tingkat pencapaian yang telah dilalui. Salah satu hal yang menjadi fokus  adalah pemberantasan buta aksara. “Tujuannya, meningkatkan melek huruf bagi penduduk dewasa,” kata Aep Saepudin S.Ag MPd.I Ketua PKBM Tunas Mekar Tirtamulya selaku tutor kegiatan keaksaraan fungsional dasar Kecamatan Tirtamulya kepada SJO(23/5)


Menurut Aep, melalui program pemberantasan buta aksara, dilakukan pemberdayaan masyarakat miskin, untuk melaksanakan komitmen nasional dan internasional mendukung upaya penanggulangan kemiskinan.”Program ini, diharapkan mampu meningkatkan kompetensi keaksaraan pada semua tingkatan. Yaitu dasar, fungsional, lanjutan, dan berkeadilan gender bagi penduduk buta aksara dewasa secara luas, adil dan merata,”imbuhnya

Selanjutnya dikatakan Aep bahwa Agenda PKBMTunas Mekar yang merupakan mitra pemerintah dalam pemberantasan buta aksara mempunyai jumlah wargadidik buta aksara sejumlah 350 orang se-Kecamatan Tirtamulya dalam gerak kebijakan yang dilakukan pemerintah selama ini terkendala oleh beberapa hal.

“Pada pelaksanaan kami dilapangan dalam menjalankan program keaksaraan fungsional dasar di Kecamatan Tirtamulya Pertama, karena mereka berasal dari keluarga miskin. Kemiskinan sering kali menjadi kendala sangat praktis dalam upaya pembelajaran masyarakat,mereka sibuk dengan agenda setiap hari dalam upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena sibuk dengan ritualisme kerja sehari-hari, mereka menganggap tidak penting akan melek atau buta aksara. Bagi mereka, mengatasi masalah kemiskinan jauh lebih urgen di tengah balutan krisis multidimensi,Kedua, mereka berada di daerah terpencil dan pelosok. Karena jauh dari pusat kebudayaan dan pusat peradaban, masyarakat menganggap diri mereka sebagai sosok inferior. Menjadi masyarakat terbelakang kemudian dipahami secara kodrati, sehingga upaya dan usaha pemberatasan aksara tidak begitu penting dalam agenda kemasyaratan karena melek aksara belum mereka sadari sebagai bagian dari upaya penciptaan kemajuan dan kesejahteraan yang Ketiga, karena paradigma berpikir yang kalut tersebut, mereka kemudian tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Belajar sudah tidak menjadi prioritas kerja sehari-hari mereka. Mereka menganggap sudah terlambat untuk belajar.

Ditambahkannya bahwa yang lebih tragis, belajar bagi mereka malah dianggap membuang waktu saja. Pola pemikiran yang demikian masih menggejala dalam tradisi masyarakat Indonesia. Bukan saja mereka yang masih buta aksara. Mereka yang sudah melek aksara saja masih enggan dan bermalas-malas dalam meningkatkan belajar dan tradisi membaca. Belajar dan membaca sering kali dianggap sesuatu yang "aneh", dan sok belajar. Inilah yang masih dilematis dalam struktur kesadaran masyarakat di Tirtamulya.pungkasnya. (Sutiyono)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: