» » » I : Jogjakarta, Kerajaan, Daerah Istimewa, Dan Wilayah Republik Indonesia Dalam Dimensi Spiritual Sejarah Dan Simbol Budaya Indonesia

Oleh : Letkol Inf Eko Ismadi *)

Sebagai bangsa Indonesia saya tergerak hati untuk memberikan sedikit pandangan dan gambaran sejarah sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi Kearton Jogyakarta. Manfaat sejarah dan Pentingnya sejarah bagi kelangsungan hidup bangsa ?. Namun dalam tulisan ini tidak akan kami uraikan tentang kedua masalah tersebut. Akan tetapi dimensi sejarah yang terjadi sekarang ini, yang kemudian berakibat pada timbulnya polemik tentang suksesi di Keraton Jogyakarta, Yang akan sedikit kita ulas adalah menguraikan dimensi sejarah dan korelasinya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dengan adanya dimensi sejarah ini, maka akan tercipta interpretasi dan implementasi serta pemahaman sejarah yang begitu beragam. Tergantung dari siapa yang berbicara, dasar kepentingan, dari kelompok dan individunya. Semua saya serahkan kepada kita semua untuk menilainya. Secara jujur saya pribadi tidak memiliki kepentingan apapun dengan Keraton Jogyakarta Hadiningrat. AKAN TETAPI, YANG SAYA MILIKI ADALAH RASA PEDULI TERHADAP BUDAYA, ADAT TRADISI, DAN NILAI SPIRITUAL SEJARAH bangsa Indonesia.

Yang menjadi dasar pemikiran tersebut pandangan kita tentang sejaraha masa lalu, yaitu sejarah Yogyakarta dan Bangsa Indonesia. Dengan demikian akan dapat terlihat dimensi dan interpretasi, sehingga dapat menciptakan pemikiran yang positip dan tepat bagi menghadapi permasalahan ini. Dimana pada muaranya adalah satu tujuan yaitu kesejahteraan bangsa bukan kehormatan pribadi dan kelompok.

HUBUNGAN SEJARAH YOGYAKARTA DENGAN SEJARAH INDONESIA

Pada hakekatnya Yogyakarta memiliki aspek historis yang mampu menjadi nilai fundamental dihadapkan dengan terbentuknya negara Indonesia. Tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa sejarah Yogyakarta dapat dipisahkan dari sejarah Indonesia sedang sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah Yogyakarta. Demikian juga masalah rakyat Yogyakarta belum tentu bagian dari masalah rakyat Indonesia, tetapi masalah rakyat Indonesia pasti bagian dari rakyat Yogyakarta. Budaya dan perilaku rakyat Yogyakarta sudah dapat dibuktikan dalam dalam perang kemerdekaan. Sekalipun Indonesia memiliki Presiden dan Wakil Presiden, Peran Sultan dan Rakyat Yogyakarta masih sangat diperlukan. Bukan tidak memiliki alasan oleh Soekarno ibukota negara Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta, bukan ke Blitar atau Pacitan ataupun Madiun. Setiap kita akan memiliki konotasi dan alasan yang beragam dan semua itu benar.

SIMBOL KEAGUNGAN NUSANTARA

Simbol Nusantara yang ada sekarang ini, tidak terlepas dari jasa Sultan dan rakyat Yogyakarta. Simbol yang dimaksud adalah rasa kebangsaan, tanggung jawab untuk mempertahankan, dan memeliharanya. Simbol Nusantara itu yang kita ketahui ada dimasa kejayaan Kerajaan Majapahit. Nusantara itu akan lenyap bersama runtuhnya majapahit. Kalau saja tidak ada sebuah kerajaan yang bernama Mataram, sebagai akhir dari masa kehidupan bangsa Indonesia dalam kerajaan. Tekat Sultan dan rakyat Yogyakarta untuk mempertahankan keberadaan bukan mudah dan menempuh perjalanan waktu yang cukup panjang. Pengorbanan yang terbesar yaitu harga diri dengan bersedia tunduk kepada Belanda dengan segala penindasannya. Hanya dengan satu tekad agar kelak bangsanya mengetahui budaya dan kejayaan leluhurnya dimasa lalu. Hikmah yang terkandung bahwa melalui penjajahan ini rakyat dan bangsanya dapat belajar dan menjadi pandai serta mengerti cara mengurus negara. Sultan sebagai pemimpin mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat dan bangsanya, tidak hanya sesaat tetapi berkesinambungan dari generasi ke generasi.

PERAN SULTAN HAMENGKU BUWONO IX.

Sejarah mencatat Sultan Hamengku Buwono IX dapat digambarkan sebagai satria tanpa pamrih. Sekalipun Jasa beliau dalam perjuangan demikian besar, namun tidak dijadikan presidenpun tidak protes atau membuat ulah yang dapat membuat susah rakyat dan bangsa Indonesia. Semasa pemerintah Soekarno Sultan hanya dijadikan Menteri tetapi tetap taat dan setia dan bahkan mendukung dengan sepenuh hati. Sebagaimana yang beliau sampaikan kepada pasukan NICA dalam peristiwa Agresi Militer Belanda,”Kalau Tuan-tuan akan menyerang Keraton langkahi dulu mayat saya”. Perilaku ini hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang memiliki jiwa ksatria yaitu sebuah tekad dan semangat untuk berkorban bagi bangsa dan negara. Sikap bijaksana juga pernah beliau tunjukan kepada kita sebagai bangsa Indonesia pada saat terakhir masa kekuasaan Soekarno, dimana suasana batin bangsa Indonesia resah melihat ketidak benaran sikap dan perilaku para pemimpinnya. Beliau mengatakan kepada beberapa kelompok masyarakat yang menginginkan pembaharuan,” Sabar saja itu bukan cara yang tepat dan itu juga belum waktunya. Karena nanti ada cara yang Maha Kuasa yang baik bagi kita semua dilakukan”. Ternyata apa yang beliau katakana benar kemudian terjadilah peristiwa yang memilukan pada tahun 1965 karena dalam peristiwa itu jatuh korban putra bangsa. Konflik politik itu membuat porak poranda tatanan politik dikala itu. Kemudian bangsa Indonesia bimbang dalam menentukan pemimpin pengganti Soekarno. Justru Sultan Hamengku Buwono IX dapat meyakinkan sebagian besar bangsa Indonesia dengan mengatakan,”Memang dia yang ditakdirkan untuk memimpin kita semua”. Siap yang dimaksud ”DIA” yaitu Soeharto. Sekali lagi, sikap seperti ini hanya dimiliki oleh seorang Ksatria.


Bersambung....

* Penulis adalah Pengamat Sejarah.

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: