» » » » » » » Mahasiswa Menilai Jokowi Bukan Solusi

SJO, TASIKMALAYA - Setelah diultimatum mahasiwa di Jakarta, giliran mahasiwa di daerah mengkritisi kebijakan Jokowi, seperti dilakukan di Tasikmalaya. Dengan berjalan mundur sebagai simbol kemunduran pemerintahan Jokowi-JK, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mendatangi Gedung DPRD Kota Tasikmalaya, Kamis (2/4).

Dalam orasinya mahasiswa meneriakan "prestasi" yang ditoreh selama Jokowi-JK berkuasa seperti, harga BBM naik, harga beras naik, tarif dasar listrik naik, harga tiket kereta naik, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Rp 13 ribu.

Selain itu, penegakan hukum yang dipolitisir, pelemahan terhadap institusi pemberantas korupsi, dan setumpuk persoalan lain yang membelenggu NKRI.

Korlap Aksi Eko Nur Rahmat menegaskan, disaat harga bahan-bahan pokok yang semakin tidak terkendali, pemerintah dibawah kendali Jokowi juga berencana untuk menaikan tarif iuran BPJS.

"Pemerintah akan menaikan iuran Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari Rp 19.255 per bulan untuk golongan terendah menjadi Rp 27.500 atau naik 43 persen," tuturnya.

Menurutnya, dengan presiden baru, masyarakat berharap adanya perubahan. Akan tetapi, sambung dia, perubahan masih menjadi angan-angan, revolusi mental tidak berjalan.

"Jokowi bukan solusi untuk menuntaskan persoalan negara yang begitu kompleks," tandas Eko.

Untuk itu, PC PMII Kota Tasikmalaya menuntut ; stabilkan kondisi perekonomian negara, tegakkan supremasi hukum, realisasikan janji-janji politik selama kampanye, tinjau ulang rencana menaikan tarif iuran BPJS.

Setelah tidak berhasil menemui Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, massa akhirnya membubarkan diri dan menuju ke Kantor BPJS untuk menyuarakan aspirasinya lebih lanjut.(D033)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: